Minggu, 26 April 2015

JODOH ITU BENAR - BENAR AMAT UNIK

JODOH ITU UNIK
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan,bersanding di pelaminan
Maka, percayalah..
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya..
.
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya
.
Tapi,seberapa yakin kau padaNya.
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya.
Seberapa besar kau merayuNya.
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar
mendapatkannya.
.
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya,lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya.
Percayalah dengan ayat ini,
"..Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu.Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui"
(Q.S. Al-Baqarah:216)
Semoga Sahabat yang sedang dalam penantian, semakin yakin dengan takdir Allah.
Semakin semangat menjemput belahan jiwanya.
Ya Allah..
Jika memang benar dia adalah jodohku.
Jika memang benar dia tercipta untukku.
Jika memang benar dia akan membawaku semakin dekat dengan-Mu.
Maka satukanlah hatiku dengan hatinya atas ridha serta kasih sayang-Mu.
Akan tetapi...
Jika dia bukan jodohku.
Jika dia bukan tercipta untukku.
Jika dia akan membawaku semakin menjauh dari-Mu.
Maka pisahkanlah hatiku dengan hatinya.
Berikanlah ganti untukku yang lebih baik darinya.
Ya Allah..
Berikanlah hamba pilihan berdasarkan ilmu-Mu..
Berikanlah hamba ketetapan berdasarkan kekuasaan-Mu.
Hanya kepada-Mu aku meminta.
Dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.
Rabbi hablii milladunka zaujan (zaujatan) thayyiban wayakuna
shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah..
"Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan(suami/istri)
yg terbaik dari sisi-Mu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami
dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat". (HR. Bukhari)
Aamiin Ya Robbal'alamiin.

Sabtu, 25 April 2015

KHUSNUL KHATIMAH

Ya Allah...
jadikanlah setiap tarikan nafas kami adalah
kecintaan kepada-Mu...
jadikanlah motivasi kami dalam
hidup ini memberi manfaat sebanyak mungkin bagi
keluarga & umat, serta jadikanlah tujuan hidup kami
untuk memperbaiki diri kami, keluarga kami & umat
menuju ridha-Mu hingga akhir hayat kami dengan
khusnul khotimah dalam pelukan Kasih Sayang-Mu...
“Ya Allah....
cukupkanlah kami dg Nikmat-Mu, rizki yang
halal & berkah yang berguna bagi kami untuk beribadah
kepada-Mu & menolong sesama...
Ya Allah...
sempurnakan akhlak kami menjadi akhlak yg mulia,
menghormati orang tua, mengasihi sesama, santun
dalam bertutur kata & berperilaku...
Aminnn...

I LOVE YOU

Dalam derab gerimis menghujam kau hadir
tepiskan kelam...
Lentera terang kau nyalakan jurang tak jadi hambatan demi jalankan kehidupan...
Ibu...
Nama mu mampu menyulam bait-bait rindu yg tak lelah kau jamah dalam gundah mu...
Kau pacu waktu mendekap pilu dengan sisa serpihan
kasih sayang dipundak mu...
Ibu...
Tak tertanggung sembilan bulan kau menggandung
ku...
Jerat menyekat Susah payah bercucuran keringat
panas dinggin menghambat kau jaga aku...
Hujan badai mendayu menyerbu kau tetap
memeluk ku dengan penuh kasih syang mu...
Sampai nyawa pun kau taruhkan demi rahim mu...
Ibu...
ketulusan mu akan ku menusuk seiring
bangkitnya raga ku...
Berat tak mengurangi mu hanya lekuknya belaian
mu lembut Tertampal serasa kabut memintal asa
ku...
Ohh...ibu,bersama mu aku bisa lebih tahu hiruk
piuknya bayu mengerti akan manisnya madu
pahitnya empedu...
Celoteh lidah mu menderu membuat ku sedar
akan tingkah ku...
Kerasnya tamparan mu buat ku tahu&penyadar
hidayah ku...
Oh..ibu..
Dalam Senyum mu kau sembunyikan letih mu...
Dalam tawa mu kau selipkan duka mu...
Peras keringat banting tulang hanya untuk sesuap
makan ku...
Letih,haus,lapar tak kau rasakan...
Saut petir tiap saat menyambar kau tetap jalani
dengan penuh sabar...
Ditiap derita mengulat jiwa lara menimpa mu tak
sedetik pun
menghentikan langkah
mu...
Untuk segera bangkit berdiri berlari
mengejar&memberi harapan baru bagi ku...
Oh..ibu...
Segudang maki selalu datang
menghampiri mu bahkan hinaan tak perduli bagi
mu...
Selalu&selalu kau teruskan langkahkan kaki mu
tuk ku...
I love u ibu...
Kasih sayang mu mengebu luluhkan air mata ku
terus menitis dijawaku...
Ibu...
Maafkan aku...
Aku terlahir dari gumpalan darah mu yg tiap
kehidupan slalu menyusahkan mu&membuat mu
malu...
Membuat mu menitiakan air mata bersimpah
darah ditiap tingkah ku...
Ibu...
Walaupun kini ku jauh dalam dekapan mu...
Kau akan selalu ada ditiap jengkal jiwa ku...
Selalu ada terpendam tertanam dalam lubuk hati
ku...
Ku selalu titip salam&doa...
Semoga Allah melimpah hidayahNya...
Senantiasa singgahkan kebhgiaan yg kekal dalam
tiap hembusan nafas mu...

I LOVE MOM..

Jumat, 24 April 2015

BELAJAR DARI MARBOT MASJID"

Ada dua sahabat yang terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yang biasa-biasa saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.
Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yang istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid mungil.Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu-waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai  tambahan.
Seperti biasa, ia tiba di satu kota. Ia mencari masjid. Ia pinggirin mobilnya, dan bergegas masukke masjid yang ia temukan.Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid!
“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”. Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan. “Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”.Zaenal terlihat masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “
Ah, biasa saja…”.Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kaen pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidat hitamnya terlhat jelas.“
Mad… Ini kartu nama saya…”.Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener-bener keren.“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.
Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”.
Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yang pintar kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapimerbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.
 Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenernya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.Air wudhu membasahi wajahnya…Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”.
Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal.Sama-sama shalat sunnah agaknya. Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya. Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.
Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.“Pak,” tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya menegur.“Iya Mas..?”“Pak, Bapak kenal emangnya sama Haji Ahmad…?”
“Haji Ahmad…?”“Ya, Haji Ahmad…”“Haji Ahmad yang mana…?”“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”“Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”“
Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelumnya bangun ini masjid…”.Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelumnya bangun masjid ini…
Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri.
Beliau bangun sendiri masjid ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat toko material di sebelah masjidini… Itu toko nya beliau. Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satukesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya.

Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.Wuah, entahlah apa yang ada di hati dan di pikirannya Zaenal…Catatan :Ucapan terima kasih saya sampaikan untuk Pak Hasbullah Hasan yang telah share cerita ini, semoga pembaca sahabat bisa mendapatkan pelajaran yang berharga dari cerita ini.
Kesimpulan : Janganlah kita tertipu oleh penampilan seseorang, yang hanya tahu nampak di pandangan saja, kita tidak mengetahui keadaan dirinya yang asli. Banyak manusia yang tertipu oleh penampilan, akhirnya yang tadinya dibangga-banggakan ternyata semuanya itu hampa.

AKU SEORANG MUNAFIK.

Dengarkanlah, aku sedang bertanya, dengan sangat jujur, kepada hatiku, apakah aku seorang munafik?  


Aku mengakui Allah sebagai tuhanku, tapi entah sudah berapa banyak hal dan makhluk yang aku tempatkan sejajar denganNya bahkan lebih, dihatiku.


Aku mengaku muslim, namun lihatlah perhitungan rinci yang pasti aku kemukakan di depan, ketika telah sampai waktunya aku harus mengerjakan kewajibanku sebagai muslim. 

Bahkan sebenarnya aku adalah sudah lebih dari tahu dan sadar bahwa aturan Allah telah jelas tentang segala sesuatu dalam hidup. Namun, entah kenapa aku tetap dengan berat hati menanggalkan semua. 

Apalagi lah, jika bukan karena aku tak mau rugi dalam urusan dunia. Ketakutan dan kemalasan seketika menyelubungi kepala dan menjalar ke hatiku yang akhirnya akupun menghentikan arus kebaikan itu untuk menemani hari- hari itu. 

Aku mengaku muslim, namun laku, tindakan, dan tutur kataku tak lebih dari menghujat, memecah belah dan merusak citra islam dan harga diriku dan saudaraku sendiri. Dan ... ajaibnya, aku tetap menganggap hal itu sebagai sebuah kebanggaan dan atau prestasi dari diriku yang akan mungkin membuahkan pahala dimata Allah. 

Ya Robb, sudah tidak waraskah aku? Aku mengaku muslim, namun aku tak pernah berbangga dengan identitasku ini, dan malah menghujat sesamaku yang telah mendapat rahmat Allah untuk dapat menerapkan aturan islam lebih baik dan lebih nyata dari pada aku. 

Entah pikiran setan apa yang menggelayuti hatiku, dan lihatlah malah kesombongan dan caci maki atas mereka yang selalu aku berikan tanpa henti.  

Aku mengajarkan kebaikan namun saking sibuknya diriku dengan sebuah pengajaran, aku lupa mengajari diriku untuk mempraktekkan kebaikan itu dalam kehidupanku sendiri. 

Tidak ada yang tahu memang, ataupun tidak ada yang repot dengan mencampuri urusan hidupku, namun ternyata hatiku sendiri yang berprotes kepadaku dan betapapun aku mencoba lari darinya, aku tetap tidak bisa. 

Aku mengakui sebuah kebaikan dan manfaat dari kejujuran. Namun diam- diam aku mengkhianati hati nuraniku dengan berbuat curang pada Allah, diriku sendiri, kepada sesamaku. 

Aku menyangka Allah pun hanya diam dan tanpa akan menyeruakkan aibku ini, karena ini adalah rahasiaku dengan Nya. 

Selanjutnya dengan bangga dan penuh kamuflase atas sebuah julukan orang alim dan jujur, aku berjalan di muka bumi, dengan tetap tenang. Manusia lain menggelariku orang yang amanah dalam menjaga dan memenuhi titipan mereka kepadaku. Namun dibelakang mereka, amanah itu aku selewengkan dengan alasan kebutuhan dan selera duniaku. 

Dan jika akhirnya mereka mengetahui hal itu, maka dengarlah untaian kata- kata indah yang dengan keahlian dan kepandaianku aku rangkai dengan berbagai cara. Apalagi lah tujuannya selain agar mereka tetap mengenaliku sebagai yang terbaik. 

Lihatlah betapa mulutku memang benar- benar mengekspresikan isi hatiku. Isi hati yang aku tuntun untuk menjadi munafik, namun ternyata aku tidak sekuat itu untuk memaksanya. 

Suara bisikan kebaikan dari Allah lewat hati nuraniku, tetap begitu kuatnya sehingga membentuk sebuah pertentangan batin yang tidak sanggup aku kuasai permainannya. 


Apakah aku seorang munafik? MasyaAllah, ternyata aku seorang munafik. Betapa
banyak manusia yang menilaiku baik, namun itu sama sekali tidak mengurangi teriakan batinku yang memaki diriku karena aku sebenarnya adalah seorang munafik. 


Hatiku protes karena aku telah mencurangi Allah walaupun hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Aku ternyata tidak bisa lari sama sekali dari umpatan hati nuraniku yang pasti akan jujur tentang adanya aku. 


Ya Robb, ampunilah hambamu yang sombong ini, yang telah berbangga hati dengan dinilai baik dan berusaha agar dinilai baik dihadapan manusia, namun sebenarnya rendah di hadapanMu.


Sanggupkah hamba ketika "video" keburukanku itu nanti akhirnya akan diputar kembali dan di pergelarkan pada semua makhlukmu diakherat nanti? Sanggupkah hamba saat nanti tiada lagi ampunan darimu dan rahmat untuk hamba, untuk tertutupnya dengan rapi semua aib dan kekurangan hamba? 

Ya Allah, semakin manusia menilai baik terhadap hamba, sebenarnya semakin dalam sakit yang hamba rasakan. Sakit lantaran semakin keras pula teriakan hati nurani hamba yang mengatakan bahwa hamba adalah seorang MUNAFIK, yang hanya pandai memoles jati diri dengan sejuta kebohongan, kecurangan dan dan topeng demi terlihat sempurna dihadapan manusia. 

Ya Allah, ampunilah hamba... Ampunilah hambamu yang hina ini