Assalamu’alaikum
Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Wahai saudaraku ada lagi
yaitu rasa Dengki dibalas kebaikan. Sekuat tenaga seorang
Muslim mengikis habis rasa dengki dalam jiwanya.
Senyum
terbuka dan mengucapkan “Selamat” dengan tulus kepada saudara muslim lainnya.
Puncaknya ia mendoakan dan
menceritakan kebaikan-kebaikan meski dahulu pernah
membenci dirinya.
Subhanallah, inilah derajat tertinggi akhlak
seorang Muslim. Ia bahagia ketika muslim lainnya
bahagia.
Ia merasa senang dan bahagia dengan sangat tulus ketika
saudara sesama muslim mendapatkan kenikmatan dan mencapai
puncak kesuksesan yang luar biasa. Tidak ada rasa sedikitpun
tersaingi.
Rasulullah saw melalui hadits
yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra
menjelaskan sebagai
beriku.
عَنْابْنِمَسْعُودٍرَضِيَاللَّهُعَنْهُقَالَسَمِعْتُالنَّبِيَّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُولُلَاحَسَدَإِلَّافِياثْنَتَيْنِرَجُلٍآتَاهُاللَّهُمَالًافَسَلَّطَهُعَلَىهَلَكَتِهِفِيالْحَقِّوَرَجُلٍآتَاهُاللَّهُحِكْمَةًفَهُوَيَقْضِيبِهَاوَيُعَلِّمُهَا
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata; Aku
mendengar Nabi SAW bersabda:
“Tidak boleh iri (dengki)
kecuali kepada dua hal.
[1] Seseorang yang Allah
berikan kepadanya harta lalu dia menguasainya dan
membelanjakannya di jalan yang haq (benar) dan
[2] seorang yang Allah
berikan hikmah (ilmu) lalu dia melaksanakannya dan
mengajarkannya (kepada orang lain) “.
HR. Bukhari. 1320
Dalam hadits ini boleh seorang muslim boleh iri tapi hanya kepada dua hal
1. Harta yang dibelanjakan. Iri kepada orang lain yang mampu beramal dengan hartanya.
Kekayaan
yang ia miliki dijadikan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Iri disini adalah iri agar kita termotivasi
mampu mengalahkan kebaikan orang lain dalam berbuat
kebaikan menggunakan harta .
2. Ilmu yang diamalkan dan diajarkan. Merasa tersaingi dengan orang lian karena ilmu yang ia
miliki. Ilmu yang diamalkan kemudian diajarkan. Subhanallah.
Tidak hanya
tahu untuk dirinya tapi juga mengajarkannya kepada orang lain.
Kajian Hadits ini menguatkan hadits yang cukup populer yang diriwayatkan dari
sahabat Anas bin Malik
لَايُؤْمِنُأَحَدُكُمْحَتَّىيُحِبَّلِأَخِيهِمَايُحِبُّلِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga
dia mencintai untuk saudaranya
sebagaimana dia mencintai untuk dirinya
sendiri”.
HR. Bukhari. 12
Terasa berat memang untuk mengikuti apa yang Nabi saw sampaikan untuk
mencintai
sesama muslim.
Mencintainya persis seperti mencintai dirinya.
Semoga uraian ini bermanfaat untuk kita semua. Insya Allah .
Aaaaamiin.
Wassalamu’alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar