Minggu, 09 Maret 2014

ATURAN DAN HUKUM


ATURAN ATAU HUKUM

Di dalam kehidupan di dunia ini kita pasti akan terikat oleh hukum. Ketika kita berada di rumah, maka berlakulah hukum rumah tangga. Ketika kita berada di jalan, maka berlakulah hukum berlalu lintas. Ketika kita berada di kantor, maka berlakulah tata tertib kantor. Ketika kita berada di lingkungan masyarakat, maka berlaku hukum masyarakat, ketika kita berurusan dengan agama, maka berlaku hukum agama dan sebagainya.

Maksud dan tujuan diterapkannya hukum itu adalah untuk menciptakan suasana yang tertib damai, tenang dan tentram, selamat dan bahagia baik untuk pribadi, keluarga, agama, masyarakat, bangsa dan negara.

Allah swt berfirman di dalam QS Al Maidah ayat 45 yaitu :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ [٥:٤٥]
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya mengangkat seorang hakim dengan menggunakan syari’at Allah, dan mengenyampingkan hukum positp buatan manusia adalah wajib. Ini merupakan kepentingan yang paling utama. Mengapa dikatakan demikian ? Karena kalau hukum Allah berarti hukum secara Al Qur’an, maka pasti benarnya, sedangkan hukum manusia pasti ada kelemahannya.

Keputusan hukum yang berdasarkan syari’at Allah mengandung beberapa kemaslahatan masyarakat. Dia adalah adil seadil-adilnya, di dalamnya tidak ada penyelewengan dan kezaliman. Dalam menjelaskan hukum pun tidak kaku, terutama sekali yang menyangkut masalah kehidupan umat.
Islam adalah agama yang memberikan keteguhan kepada seorang alim dalam menetapkan hukum-hukum dan di dalam perincian-perincian hukumnya melebihi seluruh syair.

Syari’at Islam tidak menghendaki bagi manusia yang membikin kerusakan di bumi dan yang mengumbar hawa nafsunya saja. Agama Islam sesungguhnya banyak yang tidak sesuai dengan keinginnan dan tidak sejalan dengan kesenangan-kesenangan.

Allah berfirman di dalam QS Al Mukminun ayat 71 yaitu :

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ [٢٣:٧١]
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.


Melalui ayat ini Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa seandainya Dia menuruti hawa nafsu manusia maka langit dan bumi seiisinya akan binasa. Maka dari itu lah Allah menurunkan Al Qur’an  tujuannya untuk dijadikan petunjuk dan pedoman hidup manusia. Harusnya manusia berbagga diri karena yang menuntunnya adalah Allah melalui KitabNya. Namun sayangnya kebanggaan itu tidak ada sama sekali, bahkan manusia lebih mempercayai ramalan bintang, tukang falah, ahli sihir, kitab parimbon dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar