ATURAN ATAU HUKUM
Di dalam kehidupan di dunia ini kita pasti akan
terikat oleh hukum. Ketika kita berada di rumah, maka berlakulah hukum rumah
tangga. Ketika kita berada di jalan, maka berlakulah hukum berlalu lintas.
Ketika kita berada di kantor, maka berlakulah tata tertib kantor. Ketika kita berada di lingkungan masyarakat, maka berlaku hukum masyarakat,
ketika kita berurusan dengan agama, maka berlaku hukum agama dan sebagainya.
Maksud dan tujuan diterapkannya
hukum itu adalah untuk menciptakan suasana yang tertib damai, tenang dan
tentram, selamat dan bahagia baik untuk pribadi, keluarga, agama, masyarakat,
bangsa dan negara.
Allah swt berfirman di dalam QS Al
Maidah ayat 45 yaitu :
وَمَنْ لَمْ
يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ [٥:٤٥]
Barangsiapa tidak memutuskan perkara
menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang
zalim.
Sesungguhnya mengangkat seorang
hakim dengan menggunakan syari’at Allah, dan mengenyampingkan hukum positp
buatan manusia adalah wajib. Ini merupakan kepentingan yang paling utama.
Mengapa dikatakan demikian ? Karena kalau hukum Allah berarti hukum secara Al
Qur’an, maka pasti benarnya, sedangkan hukum manusia pasti ada kelemahannya.
Keputusan hukum yang berdasarkan
syari’at Allah mengandung beberapa kemaslahatan masyarakat. Dia adalah adil
seadil-adilnya, di dalamnya tidak ada penyelewengan dan kezaliman. Dalam
menjelaskan hukum pun tidak kaku, terutama sekali yang menyangkut masalah
kehidupan umat.
Islam adalah agama yang memberikan
keteguhan kepada seorang alim dalam menetapkan hukum-hukum dan di dalam
perincian-perincian hukumnya melebihi seluruh syair.
Syari’at Islam tidak menghendaki
bagi manusia yang membikin kerusakan di bumi dan yang mengumbar hawa nafsunya
saja. Agama Islam sesungguhnya banyak yang tidak sesuai dengan keinginnan dan
tidak sejalan dengan kesenangan-kesenangan.
Allah berfirman di dalam QS Al
Mukminun ayat 71 yaitu :
وَلَوِ
اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ
فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ
فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ [٢٣:٧١]
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka,
pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya
Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi
mereka berpaling dari kebanggaan itu.
Melalui ayat ini Allah memberitahukan kepada kita
semua bahwa seandainya Dia menuruti hawa nafsu manusia maka langit dan bumi
seiisinya akan binasa. Maka dari itu lah Allah menurunkan Al Qur’an tujuannya untuk dijadikan petunjuk dan
pedoman hidup manusia. Harusnya manusia berbagga diri karena yang menuntunnya
adalah Allah melalui KitabNya. Namun sayangnya kebanggaan itu tidak ada sama
sekali, bahkan manusia lebih mempercayai ramalan bintang, tukang falah, ahli
sihir, kitab parimbon dan sebagainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar