Rabu, 12 Maret 2014

HAL HAL YANG TIDAK DISUKAI RASULULLAH SAW


HAL HAL YANG TIDAK DISUKAI RASULULLAH.

Rasulullah saw melarang kita lemah dalam mencapai cita-cita. Akan tetapi hendaknya kita optimis dalam usaha kita. Tanamkan dalam-dalam ke dalam jiwa kita kepercayaan kepada Allah, agar apa yang kita cita-citakan tercapai.

Tercapainya cita-cita itu harus mau berjuang dengan bekerja keras tanpa kenal lelah, jauh dari sifat putus asa dan keluhan, tidak bermalas-malas dan berdiam diri tanpa usaha. Tidak bisa sesuatu dapat diraih hanya dengan berdoa saja tanpa dibarengi dengan usaha.

Di akhir akhir ini banyak orang-orang Islam yang menyimpang prilakukanya, artinya sudah jauh dari tuntunan agama, bahkan tuntunan nenek moyang yang tidak tahu jelas dasar hukumnya diikuti, bahkan dikembangkan.
Contoh sederhana masih banyak yang mempercayai barang ( keris, tumbak, tongkat, tasbih, sabuk, batucincin dsb ) yang dianggap masih memiliki kekuatan gaib , yang mampu untuk menyelamatkan dan melindungi pemiliknya.

Ada lagi yang gemar berziarah ke makam waliyullah, habib, kyai yang dianggapnya memiliki kelebihan atau karamah ( Yang diberi kelebihan itu kan mereka, bisanya diberi kelebihan pasti itu ada tugas tertentu dari Allah untuk menegakkan agamaNya ), namun oleh kalangan masyarakat banyak disalah artikan, agar kebagian karamahnya. Gimana karamah akan didapat kalau prilaku dalam kesehariannya tidak seperti mereka, dan kalaupun iya, belum tentu dapat karena pemiliknya itu Allah. Allah hanya akan memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Sebaliknya Dia akan mencabut sesuatu dari hambaNya yang dikehendaki olehNya.

Apabila kita tertimpa sesuatu hal yang tidak menyenangkan, maka kita dilarang mengucapkan klimat pengandaian seperti” seandainya…… andaikata ….. kalau saja …….  Maka tidak akan terjadi seperti itu” Karena kata-kata ini akan dapat membuka pinti pekerjaan setan. Kenapa ? Karena dengan kata-kata itu seolah-olah kita dapat menghindarkan diri dari taqdir Allah. Padahal taqdir Allah itu pasti terlaksana, tidak ada yang bisa menentangnya.

Yang benar itu adalah tanggapi setiap peristiwa yang telah terjadi dan katakana bahwa Allah telah metaqdirkannya dan apapun yang dikehendaki Allah, niscaya akan diperbuat-Nya dan pasti terjadinya.
Sedangkan untuk menaggapi sesuatu yang akan datang kita persiapkan sepenihnya dan jangan lupa hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita alami pada waktu yang lampau, jangan sampai kita terperoksok dua kali dalam satu lobang. Sehingga kita akan menemui kegagalan.
Sekali lagi kalau kita semua menghendaki menjadi manusia mukmin ( manusia yang beriman ) maka harus mau berjuang terus, meneggakkan kebenaran, mencegah dari yang munkar, bersabar dalam menghadapi dan menyikapi masalah karena tidak memutup kemungkinan akan menemukan hambatan , dan gangguan. Hambatan dan gangguan itu bisa dari dalam diri kita dan bisa dari luar diri kita. Tapi yang paling erat adalah yang dari dalam diri kita sendiri.

Orang yang beriman itu oleh Rasulullah saw dilarang bermalas-malasan, yang dipilih hanya yang “enaknya saja”, menunda-nunda urusan dan mengembalikan semua urusan yang terjadi kepada Allah, baik yang berupa kegagalan maupun keberhasilan.Jauhi kalimat-kalimat yang berbau pengandaian. Karena pengandaian itu adalah prilaku orang-orang munafiq.

Berjuang, menegakkan yang benar dan menentang yang salah dengan segala akibatnya adalah merupakan perintah Allah. Hindari bahaya diusahakan sekecil mungkin. Karena timbulnya bahaya itu adalah akibat salah langkah. Namun apabila kita sudah melakukan dengan baik dan benar, masih saja tetap terjadi,. Hal itu bukan karena salah pelaksanaan dalam melaksanakan perinbtah, akan tetapi sudah taqdir Allah semata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar