Selasa, 25 Februari 2014

HIDUP HARUS OPTIMIS, JANGAN PESIMIS


  
JANGANLAH MENJADI MANUSIA YANG CENGENG

Kita semua sudah tahu semua dan sadar bahwa tidak ada hidup di dunia ini yang enak., yang menyenangkan, yang memuaskan. Karena semuanya tidak ada yang kekal, Adapun yang kekal hanyalah kehidupan akhirat. Di pagi hari kita dibuatnya senang, tertawa-tawa bersenandung, namun di siang harinya mulai dibuat pusing dengan segala permasalahan yang datang di hari itu. Dan di sore harinya, segala masalah, segudang persoalan belum juga terselesaikan, tahu-tahu kematian datang. Kita dibuatnya menangis, karena ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, yang kita sayangi, yang kita banggakan yang bisa menjadi tumpuan harapan di masa depan.

Seorang pemimpin sejati tidak pernah berbuat untuk memikirkan dirinya sendiri. Akan tetapi yang dia fikirkan bagaimanakah nasib orang-orang yang dipimpinnya itu agar mereka bisa mandiri, bisa menjalani hidup dengan tidak bergantung kepada siapapun, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, bisa dan mampu menghadapi segala persoalan kehidupannya sendiri, dan bisa membaktikan dirinya kepada Sang Ibu Pertiwi, Negara Indonesia yang mereka cintai. Mereka rela mengorbankan dirinya, baik dengan harta benda yang dimilikinya, bahkan sampai nyawanyapun apabila diperlukan diberikannya, disumbangkannya demi Ibu Pertiwi yang telah memberikan kehidupan kepadanya, yang mencukupi segala kebutuhannya.

Sungguh tidaklah mudah untuk dilakukan semuanya itu, bicara memang mudah. Namun apabila tidak dimulai dari hal-hal yang kecil yang sekiranya mampu dilakukannya, kenapa harus menunggu sampai besar. Apabila hal itu baik dan benar kenapa tidak dilakukan dengan segera, jangan sampai kesempatan itu hilang lenyap berlalu begitu saja.

Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Adil, Dia tidak pernah merugikan siapapun. Setiap manusia pasti akan diujinya sesuai dengan kadar kesanggupan atau kemampuannya. Semakin tinggi keyakinan, semakin banyak yang diinginkan maka akan semakin banyak ujian dan cobaan menerpanya bagaikan hujan badai dan gelombang pasang yang saling bersusulan menghantamnya. Dan hal itu disesuaikan dengan keinginan dan kesanggupan hambaNya. Sungguh Allah itu tidak pernah zalim kepada siapapun, akan tetapi kebanyakan manusianya saja yang banyak menzalimi dirinya sendiri.

Oleh karena itu janganlah kita menjadi manusia yang cengeng, jangan gampang emosi, protes karena apa yang didapatkan itu masih belum sesuai dengan kehendaknya. Kenapa kebanyakan mausia itu sangat pandai mengeluh di hadapan orang lain, kata katanya rapih tertata- tertiti dengan baik, sehingga membuat orang yang mendengarkan bisa sangat bersedih hati. Dengan tujuan minta dikasihani. Namun kalau Allah tidak berkehendak, maka sungguh tidak akan terjadi. Sementara keluhan yang tadi disampaikan ke orang lain malah di hadapan Allah tertutup, tidak ada yang keluar ucapan lainnya, selain ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, setelah itu sudah gak ada kata-kata lainnya.

Oleh karena itu janganlah kita menjadi manusia yang cengeng, jangan gampang emosi, protes karena apa yang didapatkan itu masih belum sesuai dengan kehendaknya. Kenapa kebanyakan mausia itu sangat pandai mengeluh di hadapan orang lain, kata katanya rapih tertata- tertiti dengan baik, sehingga membuat orang yang mendengarkan bisa sangat bersedih hati. Dengan tujuan minta dikasihani. Namun kalau Allah tidak berkehendak, maka sungguh tidak akan terjadi. Sementara keluhan yang tadi disampaikan ke orang lain malah di hadapan Allah tertutup, tidak ada yang keluar ucapan lainnya, selain ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, setelah itu sudah gak ada kata-kata lainnya.


Marilah sejak saat ini kita buka hati kita yang selama ini telah terkunci, buka mata hati kita untuk menerima hal-hal yang nyata, bukan hal-hal yang penuh dengan hayalan, bukan hal-hal yang tidak ada kepastaiannya, bukan hal-hal yang ditambah-tambah, sehingga menjadi beban hidup yang seharusnya tidak dilakukan. Apabila di antara kita ada yang ingin jadi pemimpin, belajarlan memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu, tanamkan pada diri sifat jujur, jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain dan jujur pada Allah. Apabila hal ini sudah mendarah daging, maka Insya Allah apa yang diinginkan akan terwujud. Ucapannya sangat tajam tapi dipercaya, ucapannya lebih tajam dari silet, lebih tajam dari pisau cukur. Ucapannya bisa menyejukkan hati orang yang sedang resah dan gelisah, bisa menentramkan orang yang sedang galau hatinya, bisa mendamaikan pikirannya yang sedang kalut. Hal ini tidak bisa digambarkan dngan suatu cerita, akan tetapi harus dibuktikan oleh diri sendiri, bukan dengan cara keilmuan, akan tetapi secara alami. Hukum kodrat alam berkalu, siapa yang menanam, dialah yang menuai. Apabila kita menanam cabe, pastilah buahnya cabe. Tidak mungkin berbuah durian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar